Jumat, 03 Agustus 2012

ANALISIS STANDAR ISI KIMIA

ANALISIS STANDAR ISI
(Permendiknas no.22 dan no.24 tahun 2006)

Nama Sekolah                   :  MAN Sukamanah
Mata Pelajaran                 :  KIMIA
Kelas/Program                  :  11/IPA
Tahun Pelajaran               :  2012/2013


A.  Kerangka Dasar Kurikulum
Ø Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Cakupan  :  Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada SMA/MA/SMALB  
                      Dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
                      Serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

B.  Tujuan Mata Pelajaran Kimia
      1.  Menyadari keteraturan dan keindahan alam untuk mengagungkan kebesaran Tuhan YME.
      2.  Memupuk sikap ilmiah yang mencakup:
•   sikap jujur dan obyektif terhadap data;
• sikap terbuka, yaitu bersedia menerima pendapat orang lain serta mau mengubah    pandangannya, jika ada bukti bahwa pandangannya tidak benar;
•  ulet dan tidak cepat putus asa;
• kritis terhadap pernyataan ilmiah, yaitu tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil    observasi empiris; dan
•  dapat bekerjasama dengan orang lain.
      3.  Memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen,   dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan merancang eksperimen melalui pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan interpretasi data, serta mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis.
4.  Meningkatkan kesadaran tentang aplikasi sains yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi   individu, masyarakat, dan lingkungan serta menyadari pentingnya mengelola dan melestarikan
            lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.
      5. Memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya dan penerapannya untuk   menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
      6.  Membentuk sikap yang positif terhadap kimia, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari kimia  lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku alam serta kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penerapannya dalam teknologi.

C.  Ruang Lingkup Mata Pelajaran Kimia
      1.  Struktur Atom, Sistem Periodik, dan Ikatan Kimia (lanjutan)
      2.  Termokimia
      3.  Laju Reaksi dan Kesetimbangan Kimia
      4.  Larutan Asam Basa
      5.  Stoikiometri Larutan
      6.  Kesetimbangan ion dalam larutan
                a.  larutan Penyangga
                b. Hidrolisis Garam
                c.  Kelarutan dan Hasil kali kelarutan
      7.  Sistem koloid

D.  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
     
No.
Rumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Semester
SK.1

Memahami struktur atom dan meramalkan sifat-sifat periodik unsur, struktur molekul dan sifat-sifat senyawa 
I ( Ganjil )
KD 1.1


KD 1.2

KD 1.3
Menjelaskan teori atom bohr dan mekanika kuantum untuk menuliskan konfigurasi elektron dan diagram orbital serta menentukan letak unsur dalam tabel periodik.
Menjelaskan teori jumlah pasangan elektron disekitar kulit luar atom pusat dan teori hibridisasi untuk meramalkan bentuk  molekul.
Menjelaskan interaksi antar molekul (gaya antar molekul) dan sifat zat
SK.2
Memahami perubahan energi dalam reaksi kimia dan cara pengukurannya
KD 2.1

KD 2.2
Mendeskripsi-kan perubahan entalpi reaksi, reaksi eksoterm dan reaksi endoterm
Menentukan DH reaksi berdasarkan percobaan, hukum Hess, data perubahan entalpi pembentukan standar, dan data energi ikatan
SK.3
Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan industri.
KD 3.1

KD 3.2


KD 3.3

KD 3.4

KD 3.5
Mendeskrip-sikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
Memahami teori tumbukan (tabrakan) untuk menjelaskan faktor-faktor penentu laju dan orde reaksi, dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari
Menjelaskan keseimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah keseimbangan dengan melakukan percobaan
Menentukan hubungan kuantitatif antara pereaksi dengan hasil reaksi dari suatu reaksi keseimbangan
Menjelaskan penerapan prinsip keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari dan industri
SK.4
Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran dan terapannya
II ( Genap )
KD 4.1

KD 4.2

KD 4.3

KD 4.4

KD 4.5

KD 4.6
Mendeskripsikan teori-teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan.
Menghitung banyaknya pereaksi dan hasil reaksi dalam larutan elektrolit dari hasil titrasi asam basa.
Mendeskripsi-kan sifat larutan penyangga dan peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup
Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam tersebut
Menggunakan kurva perubahan harga pH pada titrasi asam basa untuk menjelaskan larutan penyangga dan hidrolisis
Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip  kelarutan dan hasil kali kelarutan
SK. 5
Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta peneapannya dalam kehidupan sehari-hari.
KD 5.1

KD 5.2
Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
Membuat berbagai sistem koloid dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya
Read More...

Minggu, 10 Juni 2012

Sifat-Sifat Koloid

Sifat-Sifat Koloid
 
Bagaimana cara mengenali sistem koloid? Cara yang paling mudah adalah dengan mengamati sifat-sifatnya. Berikut adalah sifat-sifat sistem koloid yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi wujud suatu sistem atau untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
a.   Efek Tyndall
      Kita sering melihat berkas cahaya di pagi hari yang masuk ke dalam rumah, di sepanjang berkas cahaya akan terlihat partikel debu yang bergerak. Demikian juga berkas cahaya lampu mobil pada malam hari yang berkabut atau cahaya proyektor bioskop dalam ruangan yang berdebu. Peristiwa ini erat kaitannya dengan penghamburan atau pemantulan berkas cahaya oleh partikel koloid yang disebut efek Tyndall.
      Sistem koloid mempunyai sifat yang khas yang berbeda dengan sifat sistem dispersi lainnya, yaitu jika seberkas cahaya dilewatkan pada suatu sistem koloid maka partikel koloid akan menghamburkan atau memantulkan cahaya tersebut.
      Jika seberkas sinar dilewatkan pada suspensi (dispersi pasir dalam air), koloid (air teh), dan larutan (gula dalam air), dan dilihat tegak lurus dari arah datangnya cahaya, maka lintasan cahaya akan terlihat jejaknya pada suspensi dan koloid, sedangkan pada larutan tidak tampak sama sekali. Hal ini terjadi karena partikel koloid dan suspensi cukup besar untuk dapat menghamburkan sinar sedangkan ukuran partikel larutan terlalu kecil sehingga tidak dapat menghamburkan cahaya.
      b.   Gerak Brown
          Gerak Brown adalah gerakan partikel koloid dengan lintasan lurus dan arah yang  acak (zig-zag).
              Gerak Brown terjadi akibat adanya tumbukan partikel-partikel pendispersi terhadap partikel terdispersi sehingga partikel terdispersi akan terlontar dan menumbuk partikel lainnya secara terus menerus karena ukuran partikel terdispersi yang relatif lebih besar dibanding medium pendispersinya.
                   Adanya gerak Brown mengakibatkan partikel-partikel koloid relatif stabil meskipun ukurannya besar, sebab dengan adanya partikel yang bergerak terus menerus akan mengurangi pengaruh gaya gravitasi.
      c.   Adsorbsi
                   Adsorbsi adalah peristiwa penyerapan muatan oleh permukaan-permukaan partikel koloid.
                   Adsorbsi terjadi karena adanya kemampuan partikel koloid untuk menarik (ditempeli) partikel-partikel kecil. Hal ini disebabkan oleh adanya tegangan permukaan koloid yang cukup tinggi sehingga bila ada partikel yang menempel akan cenderung dipertahankan pada permukaannya.
                   Bila partikel koloid menyerap ion positif, maka koloid tersebut akan bermuatan positif dan sebaliknya.
      Partikel koloid dapat mengadsorbsi bukan hanya ion atau muatan listrik tetapi juga zat lain yang berupa molekul netral. Beberapa contoh pemanfaatan sifat adsorbsi koloid antara lain:
      a.   Penyembuhan sakit perut (diare) dengan serbuk karbon atau oralit.
             Serbuk karbon atau oralit di dalam usus dapat membentuk sistem koloid yang mampu menyerap (mengadsorbsi) dan membunuh bakteri-bakteri patogen.
      b.   Penjernihan air dengan tawas.
                   Larutan tawas akan membentuk koloid Al(OH)3 yang akan mengadsorbsi kotoran-kotoran sehingga terjadi gumpalan yang akan mengendap.
      c.   Penjernihan cairan tebu pada pembuatan gula pasir menggunakan tanah diatome dan arang tulang agar warna gula pasir menjadi putih.
Read More...

Selasa, 22 Mei 2012

Proses Pembentukan Minyak Bumi



Proses Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Alam
Keberadaan minyak bumi di alam merupakan hasil pelapukan fosil-fosil tumbuhan dan hewan pada zaman purba jutaan tahun silam. Organisme-organisme tersebut kemudian dibusukkan oleh mikroorganisme dan terkubur atau terpendam dalam lapisan kulit bumi. Dengan tekanan dan suhu yang tinggi, maka setelah jutaan tahun lamanya, material tersebut berubah menjadi minyak yang terkumpul dalam pori-pori batu kapur atau batu pasir. Oleh karena pori-pori batu kapur bersifat kapiler, maka dengan prinsip kapilaritas, minyak bumi yang terbentuk tersebut perlahan-lahan bergerak ke atas. Ketika gerakan tersebut terhalang oleh batuan yang tidak berpori, maka terjadilah penumpukan minyak dalam batuan tersebut.
Itu sebabnya minyak bumi disebut sebagai petroleum (petrus = batu, oleum = minyak). Daerah lapisan bawah tanah yang tidak berpori tersebut dikenal dengan nama antiklinal atau cekungan. Daerah cekungan ini terdiri dari beberapa lapisan, lapisan yang paling bawah berupa air, lapisan di atasnya berisi minyak, sedang di atas minyak bumi tersebut terdapat rongga yang berisi gas alam. Jika cekungan mengandung minyak bumi dalam jumlah besar, maka pengambilan dilakukan dengan jalan pengeboran. Proses pengeboran minyak bumi dan gas alam tersebut digambarkan sebagai berikut.
Untuk mengeluarkan minyak dan gas bumi dilakukan pengeboran. Daerah penghasil minyak bumi di Indonesia umumnya terdapat di daerah pantai atau lepas pantai, seperti pantai utara Jawa (Cepu, Wonokromo, Cirebon), daerah Sumatera bagian Utara dan Timur (Aceh, Riau), daerah Kalimantan Timur (Tarakan, Balikpapan), dan daerah Irian (Papua).
Read More...